Kota Metro, berita-public.com – Sikap tertutup manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jenderal Ahmad Yani Metro terkait polemik pengadaan obat dan alat kesehatan (alkes) tahun anggaran 2025 memicu tanda tanya publik. Hingga berita ini diturunkan, Direktur RSUD dr. Fitri selaku penanggung jawab tertinggi penggunaan anggaran belum memberikan klarifikasi resmi. Upaya konfirmasi redaksi melalui pesan singkat pun tidak membuahkan respons.
Ketiadaan penjelasan dari pucuk pimpinan rumah sakit dinilai sejumlah pihak memperkuat sorotan atas dugaan praktik “titip harga” serta setoran fee hingga 15 persen dalam sejumlah paket pengadaan. Aktivis antikorupsi daerah, Hendra, menilai sikap diam pejabat publik dalam isu krusial justru menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Dalam prinsip keterbukaan informasi publik, diamnya pejabat atas persoalan seperti ini bisa memunculkan indikasi adanya sesuatu yang disembunyikan. Jika memang tidak ada masalah, seharusnya dijelaskan secara terbuka,” ujar Hendra, Selasa (10/2/2026).
Polemik ini mencuat setelah rincian belanja RSUD tahun 2025 beredar di publik. Data tersebut menunjukkan belanja obat mencapai Rp7,3 miliar, didominasi oleh PT Pratapa Nirmala dengan 10 paket senilai Rp1,2 miliar serta PT Ferron Par Pharmaceuticals satu paket senilai Rp1,1 miliar. Selain itu, belanja alat kesehatan dan laboratorium sebesar Rp3,8 miliar juga ikut menjadi sorotan karena diduga menjadi ruang permainan harga.
Isu adanya “kewajiban” setoran sebesar 15 persen dari nilai kontrak kepada oknum pejabat berkembang menjadi perbincangan luas, meski hingga kini belum terbukti secara hukum. Ketidakterbukaan pihak rumah sakit membuat polemik terus bergulir, sementara desakan publik agar dilakukan klarifikasi semakin menguat.
Hendra mendesak Wali Kota Metro dan Inspektorat Kota Metro segera memanggil pihak direksi untuk memberikan penjelasan. Jika tetap tidak ada respons, ia meminta aparat penegak hukum melakukan audit investigatif guna menelusuri aliran dana pada paket pekerjaan yang melibatkan sejumlah perusahaan tersebut.
Perbincangan juga meluas di media sosial. Sejumlah warganet menyampaikan komentar dan pengalaman pribadi terkait pelayanan rumah sakit. Akun TikTok @Papadi menulis, “Tahun kemarin jual beli kursi beritanya, sekarang ada lagi titip harga.” Sementara akun @DIYAH 🔥PS🔥❤️ mengaku kesulitan mendapatkan obat tertentu dan memilih berobat di tempat lain. Komentar tersebut merupakan opini pribadi dan belum dapat diverifikasi kebenarannya. (Redaksi)












