Bandar Lampung, berita-public.com — Gelombang amarah publik dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap penyelenggaraan Bandar Lampung Expo 2026 kian meluap. Di balik gelontoran APBD Kota Bandar Lampung senilai lebih dari Rp1,3 miliar, ajang tahunan yang dikelola Dinas Perdagangan (Disdag) ini dinilai gagal total, asal-asalan, dan hanya menguntungkan pihak tertentu.
Kekecewaan meluas setelah akun TikTok media berita-public mengunggah pengakuan miris para pedagang kecil yang menjadi korban sepinya pameran.
Janji manis pameran meriah yang berpotensi memajukan ekonomi kerakyatan berubah menjadi mimpi buruk bagi 75 UMKM peserta. Meski Dinas Perdagangan telah mengucurkan anggaran Event Organizer (EO) kepada PT Tunggal Kreatif Indo sebesar Rp847,4 juta, para pedagang rakyat ini ternyata masih diperah sewa tenda hingga Rp2,5 juta per lapak.
Kondisi diperparah oleh manajemen EO yang dinilai amatiran dan tak bertanggung jawab. Salah satu akun pedagang es cokelat viral, @escoklat.viral, meluapkan kemarahannya karena terpaksa kabur sebelum acara selesai akibat menderita kerugian besar.
”Kacau ini acara, saya cuma dagang 3 hari aja, selebihnya saya tinggalin. Ini ada yang bilang acara UMKM Expo 2026 GRATIS, TAPI BAYAR 2,5 JUTA. RUGI BONCOS! Poin-poin kecurangan dari panitia (EO): banyak acara yang digagalkan tiba-tiba tanpa pemberitahuan, jadi kami UMKM banyak makanan yang basi dan kebuang! EO tidak bertanggung jawab, acara aturan 10 hari jadi 8 hari,” tulisnya sembari menandai akun Wali Kota Eva Dwiana.
Warga Lokal Tak Tahu
Pertanyaan paling mendasar publik kini tertuju pada efektivitas alokasi Belanja Jasa Iklan/Publikasi senilai Rp515 juta yang diserap terbatas oleh 15 perusahaan media.
Bagaimana mungkin acara berskala kota yang menelan dana promosi setengah miliar rupiah justru tidak diketahui oleh warga Bandar Lampung sendiri?.
Fakta di lapangan membuktikan penyebaran informasi sangat sempit. Sejumlah warga yang mengomentari unggahan tersebut mengaku sama sekali tidak mendengar adanya perhelatan Bandar Lampung Expo 2026.
”Saya aja gak tahu ada event. Malah lihat ini udah tutup wkwkwk, padahal rumah gak jauh,” tulis akun @ade afriyan.
”Lah, gue malah gak tahu ada Bandar Lampung Expo,” timpal akun @wawewo.
Sorotan tajam netizen juga mengarah pada dugaan komersialisasi berlebihan yang mengeruk untung sponsor di atas penderitaan pedagang kecil.
”Yang untung tetap pemerintah setempat tembus Rp3 miliar karena support sponsor, pedagang kecil rungkat dan merugi. Next acara seperti ini baiknya tidak usah ikut meriahkan,” sindir akun @NOTHING.
Kritik tajam netizen merefleksikan bahwa manajemen pameran yang digawangi Dinas Perdagangan dan pihak EO berjalan tanpa perencanaan matang (profesionalisme), sehingga melukai hati masyarakat kecil yang berharap mengadu nasib.
”Nggak EO, nggak Dinas sama aja. Sama-sama kusut,” keluh akun @#bukansekedaresteh.
”Perlu evaluasi nih. Rakyat yang jualan atas nama UMKM sudah beri pernyataan mereka merugi dan merasa berat dengan uang sewa. Tahun depan sewa harus disesuaikan,” usul akun @TARA.
Melihat rentetan fakta, kerugian pedagang, serta bobroknya promosi acara, Inspektorat Kota Bandar Lampung dan aparat penegak hukum didesak untuk tidak menutup mata. Audit menyeluruh terhadap aliran dana sponsor, biaya sewa stan Rp2,5 juta, serta kontrak kerja EO bernilai ratusan juta tersebut harus segera dibuka transparan kepada publik. (Red/Tim)











