Bandar Lampung, berita-public.com — Klaim fantastis nilai transaksi Bandar Lampung Expo 2026 yang menyentuh angka Rp 3,1 miliar menuai gelombang kritik tajam dari publik dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Berdasarkan pantauan di media sosial media berita-public.com, tajuk berita pencapaian tersebut dibanjiri komentar miring dari para pedagang yang mengaku justru mengalami kerugian (boncos) selama delapan hari pameran berlangsung (17–24 Juli 2026).
Sejumlah akun yang mengaku sebagai peserta pameran menyebut angka Rp 3,1 miliar tersebut tidak mencerminkan realita di lapangan. Akun @NASI BAKAR DAPOER LARAS menumpahkan kekecewaannya, “Ini datanya dari mana min, wkwkw. Yang ada UMKM boncos, panitia EO gak bertanggung jawab. Jangan deh dipakai lagi, UMKM merugi…”
Suara senada disampaikan akun @Bundaenimakeup yang menyoroti tingginya biaya sewa tenda serta sepinya pengunjung. “Kuliner jadi primadona? Primadonanya siapa? UMKM-nya nangis darah, masuk jurang. Sewa tenda Rp 2,5 juta, acara banyak yang ditiadakan. Sekalinya ada acara, yang datang kebanyakan cuma untuk absen takut sama Bunda Eva,” tulisnya di kolom komentar.
Kritik lain juga datang dari akun @NOTHING yang menilai gelaran ini hanya menguntungkan pihak panitia dan pemerintah daerah melalui sponsor. “Yang untung tetap pemerintah setempat tembus Rp 3 M karena support sponsor. Pedagang kecil rungkat dan merugi. Next acara seperti ini baiknya tidak usah ikut meriahkan,” timpalnya. Bahkan beberapa warganet lain seperti @Richie_a0, @asrimayalestari, dan @Lunara Goods secara terbuka menyebut data tersebut gaib dan bentuk ‘halusinasi’.
Menanggapi gejolak dan skeptisisme publik, Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung, Erwin, akhirnya buka suara memberikan klarifikasi langsung mengenai indikator dan metodologi penghitungan data transaksi tersebut kepada berita-public.com, Selasa (28/7/2026).
Erwin menjelaskan bahwa angka Rp 3,1 miliar tersebut didapatkan dari kalkulasi rata-rata pendapatan harian seluruh lapak pedagang yang terdaftar selama delapan hari acara.
”Data perputaran uang Rp 3,1 miliar saat Bandar Lampung Expo itu dihitung dari estimasi pendapatan terendah atau rata-rata Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta per hari. Terdapat sekitar 75 pedagang UMKM yang berpartisipasi selama 8 hari,” terang Erwin.
Ia membeberkan, jika dikalkulasikan menggunakan batas pendapatan paling rendah (paling pesimis), yakni Rp 2,1 juta dikalikan 75 pedagang, kemudian dikalikan 8 hari penyelenggaraan, ditambah akumulasi transaksi dari sektor non-kuliner seperti kerajinan Tapis dan produk OPD lainnya, maka akumulasi perputaran uang mencapai total Rp 3,1 miliar.
Meskipun Dinas Perdagangan telah memberikan justifikasi logis atas formula penghitungan yang digunakan, jurang perbedaan antara hitungan matematis di atas kertas dengan pengakuan pahit para pelaku UMKM di lapangan tetap meninggalkan ruang evaluasi mendalam.
Masyarakat dan asosiasi UMKM berharap Pemkot Bandar Lampung serta pihak Event Organizer (EO) tidak hanya berpatokan pada estimasi komulatif, melainkan juga mengevaluasi struktur biaya sewa, kenyamanan fasilitas pameran, serta efektivitas promosi agar gelaran pameran mendatang benar-benar memberdayakan ekonomi kerakyatan, bukan sekadar riuh secara seremonial. (Red)












