Bandar Lampung, berita-public.com –Menjelang momen mudik dan perayaan Lebaran, Bandar Lampung menghadapi tantangan peningkatan kasus campak yang perlu diantisipasi secara serius.
Kadiskes Bandar Lampung Muhtadi Arsyad Temenggung menegaskan, Diskes Bandar Lampung telah melakukan berbagai langkah strategis.
“Salah satunya adalah penguatan surveilans dan respons cepat melalui penemuan kasus secara aktif di puskesmas dan jejaring layanan kesehatan. Pelaporan dilakukan secara cepat melalui aplikasi SKDR, disertai penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri sumber penularan dan mencegah penyebaran lebih luas,” ujarnya, Rabu 18 Maret 2026.
Upaya lainnya adalah peningkatan cakupan imunisasi, baik melalui imunisasi rutin MR maupun kegiatan sweeping setiap bulan oleh tenaga vaksinator.
Layanan imunisasi juga diintegrasikan di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas, posyandu, klinik, praktik dokter swasta, hingga rumah sakit.
Sasaran utama mencakup bayi usia 9 bulan, baduta usia 18 bulan, serta anak kelas 1 SD.
Imunisasi masih dapat dilengkapi hingga usia 59 bulan melalui program kejar.
Edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan, terutama terkait gejala campak seperti demam, batuk, pilek, ruam, dan konjungtivitis.
Selain itu, masyarakat diimbau segera melengkapi imunisasi anak serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) guna mencegah penularan, terutama saat berkumpul di momen Lebaran.
Untuk menangkal hoaks, Dinas Kesehatan melibatkan lintas sektor seperti dunia pendidikan, Kementerian Agama, PKK, serta tokoh masyarakat dalam memberikan pemahaman yang benar mengenai vaksinasi.
Dari sisi penanganan kasus, pasien campak ditangani sesuai standar operasional prosedur, termasuk pemberian vitamin A dosis tinggi dan isolasi guna mencegah penularan.
Sementara itu, penguatan logistik dan sumber daya manusia juga dilakukan melalui manajemen ketersediaan vaksin, pemeliharaan rantai dingin, pelatihan tim vaksinator, serta monitoring dan evaluasi pelaporan.
“Dengan berbagai langkah tersebut, masyarakat diharapkan lebih waspada dan proaktif dalam melindungi anak-anak dari campak, khususnya menjelang Lebaran yang identik dengan mobilitas tinggi dan interaksi sosial yang meningkat,” ucapnya.
Menurutnya, mobilitas masyarakat yang tinggi saat Lebaran berpotensi mempercepat penularan penyakit, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
“Kenaikan kasus campak ini tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 pada periode 2019–2022, di mana pelaksanaan vaksinasi mengalami gangguan,” ujarnya.
Akibatnya, masih banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
“Menurunnya partisipasi masyarakat juga dipengaruhi oleh maraknya hoaks terkait efek samping vaksin, keraguan terhadap kehalalan vaksin, serta kekhawatiran orang tua terhadap reaksi ringan seperti demam dan bengkak pasca imunisasi,” ucapnya.
Bahkan, pengaruh sebagian tokoh masyarakat yang menolak vaksin turut memperburuk kondisi ini. (*)












