Tulang Bawang, Berita-public.com –Penggunaan anggaran di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Kabupaten Tulang Bawang memicu kontroversi. Pasalnya, pagu anggaran untuk perjalanan dinas pada tahun anggaran 2025 membengkak hingga mencapai Rp20 miliar dan Belanja makanan dan minuman jamuan tamu (spesifikasi : minuman kaleng, kaleng biskuit, roti kaleng dan kopi instan) mencapai Rp1,8 miliar sebuah angka yang dinilai fantastis di tengah upaya efisiensi anggaran nasional.
Angka Rp20 miliar ini menjadi sorotan tajam publik karena dianggap tidak sejalan dengan semangat penghematan yang diinstruksikan oleh pemerintah pusat. Berdasarkan data yang dihimpun, anggaran tersebut dialokasikan untuk kunjungan kerja (kunker) luar daerah, konsultasi ke kementerian, serta koordinasi antarlembaga.
Pengamat kebijakan publik setempat menilai nilai tersebut sangat rawan akan penyimpangan.
“Pembengkakan hingga Rp20 miliar ini perlu dipertanggungjawabkan secara rinci. Jangan sampai ini hanya menjadi ajang bagi-bagi jatah di luar tugas pokok dan fungsi legislasi,” ujar Hendra aktivis anti-korupsi di Lampung. (08/01/26).
Hendra juga meminta Aparat Penegak Hukum maupun BPK RI Lampung serta instansi terkait melakukan audit total dalam penggunaan anggaran tersebut.
“Kami meminta DPRD Tulang Bawang untuk membuka rincian urgensi setiap perjalanan dinas agar rakyat bisa menilai apakah perjalanan tersebut benar-benar untuk kepentingan daerah atau hanya sekadar “wisata birokrasi”, ” ungkapnya.
Jika desakan ini diabaikan, sejumlah elemen mahasiswa dan organisasi rakyat mengancam akan turun ke jalan. Mereka menegaskan bahwa rakyat tidak akan tinggal diam melihat uang pajak mereka dihambur-hamburkan untuk kegiatan yang manfaatnya tidak pernah dirasakan oleh masyarakat kecil.
Kekecewaan masyarakat
Warga menilai, uang sebesar Rp20 miliar tersebut seharusnya bisa memberikan dampak untuk kesejahteraan masyarakat.
“Setiap hari kami bertaruh nyawa lewat jalan rusak untuk mengais rezeki, sementara mereka (DPRD) dengan ringannya menganggarkan 20 miliar hanya untuk mondar-mandir luar kota. Di mana hati nuraninya?” cetus Rahmat, seorang sopir logistik lintas kabupaten dengan nada getir.
Hingga berita ini dibuat, media berita-public masih mencoba meminta klarifikasi kepada Sekretariat DPRD Tulang bawang. (Redaksi).











