Bandar Lampung, berita-public.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengalokasikan anggaran sebesar Rp11,6 miliar untuk pengembangan pupuk hayati cair (PHC) di 800 lokasi desa pada 2026.
Program tersebut menjadi salah satu upaya Pemprov Lampung dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendorong kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk.
Kepala Bidang Perekonomian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung, Endang Wahyuni, mengatakan pengembangan pupuk hayati cair merupakan bagian dari Program Desaku Maju.
Menurutnya, pada 2026 pemerintah daerah telah mengalokasikan pengembangan PHC melalui APBD murni di 800 lokasi yang tersebar di 15 kabupaten/kota di Lampung.
“Dalam pelaksanaan Program Desaku Maju ada sejumlah program, salah satunya adalah pengembangan pupuk hayati cair yang bertujuan untuk mendukung peningkatan produksi sektor pertanian,” ujar Endang di Bandar Lampung, Rabu.
Ia menjelaskan, program tersebut merupakan kelanjutan dari pelaksanaan pada 2025 yang telah menjangkau 500 lokasi desa.
Penggunaan pupuk hayati cair diyakini mampu meningkatkan hasil produksi pertanian hingga 30 persen per hektare. Namun, peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada pemupukan, melainkan juga dipengaruhi ketersediaan irigasi serta kondisi cuaca dan iklim.
Endang menyebutkan, pemanfaatan PHC diharapkan memberikan sejumlah manfaat bagi sektor pertanian. Di antaranya memperbaiki kualitas tanah, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk sintetis, menekan biaya produksi, serta meningkatkan produktivitas tanaman.
Selain itu, program tersebut juga diarahkan untuk memberdayakan petani melalui kelompok tani agar mampu mencapai kemandirian dalam penyediaan pupuk.
Pemprov Lampung pun menyiapkan target pengembangan yang lebih luas pada 2027. Program pupuk hayati cair ditargetkan dapat diterapkan secara aktif dan penuh di 2.000 titik desa atau kelompok tani dengan cakupan lahan sekitar 800 ribu hektare.
“Dengan penggunaan pupuk hayati cair ditargetkan pada 2027 akan ada peningkatan produktivitas sekitar 15-30 persen,” katanya.
Endang mencontohkan potensi peningkatan produksi pada komoditas padi. Dengan produksi dasar pada 2025 sebesar 3,25 juta ton, peningkatan produktivitas sebesar 15 persen diperkirakan dapat menambah produksi sekitar 487 ribu ton.
Sementara itu, apabila peningkatan mencapai 30 persen, tambahan produksi berpotensi mencapai 975 ribu ton gabah kering giling (GKG).
Lebih lanjut, ia memperkirakan pengembangan pupuk hayati cair secara optimal pada 2.000 titik dengan cakupan lahan sekitar 800 ribu hektare dapat memberikan tambahan nilai ekonomi bagi Lampung.
Berdasarkan skenario sedang, potensi tambahan ekonomi diperkirakan mencapai Rp17 triliun hingga Rp21 triliun per tahun. Bahkan, apabila program berjalan sangat optimal, nilai ekonomi yang dihasilkan berpotensi mencapai Rp30 triliun per tahun.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga memperkuat daya saing sektor pertanian Lampung serta meningkatkan kesejahteraan petani. (*)












